1. Cara Screening pada komunitas
Umum
Screening adalah strategi yangi
digunakan dalam suatu populasi untuk mendeteksi suatu penyakit pada individu
tanpa tanda – tanda atau gejala penyakit itu. (Wilson JMG).
Tujuan Screening
Untuk mengidentifikasi penyakit pada
komunitas di tahap awal, sehingga memungkinkan intervensi lebih awal dengan
harapan untuk mengurangi angka kematian dan penderitaan dari penyakit (Wilson
JMG).
Konsep Dasar dalam Screening
1.
Pengumpulan data à pemilihan metode dan sarana bergantung pada keadaan tertentu dari
program screening.
2.
Pengolahan data atau manipulasi
à dilakukan dengan cara konvensional meskipun antara media yang
berbeda dapat menentukan kebutuhan khusus dari prosedur screening yang dipilih.
3.
Penyimpanan data à kendalanya adalah kesulitan dalam penyimpanan data dalam jumlah
besar.
(Wilson, J.M.G. Principles
& Practice of Screening for Disease)
Persyaratan program screening
Ada 5 keadaan atau kondisi yang
harus dipenuhi untuk mempergunakan program screening yaitu:
1.
Prevalensi suatu penyakit tidak
dapat didiagnosis atau pada suatu keadaan terdapat angka kesakitan yang tinggi
pada suatu kelompok masyarakat.
2.
Pada saat terjadi kondisi
kritis dan serius yang perlu segera ditangani.
3.
Pengobatan yang akan dilakukan
mudah dan lebih efektif dibandingkan dengan cara pengobatan sebelumnya.
4.
Probabilitas dari hasil
screening yang menyatakan orang menderita sakit atau tidak sakit sangat tinggi.
5.
Penentuan tanda positif dan
negative mudah dilakukan, biaya murah, dan tidak bersifat subejektif.
(Chandra, Budiman. 2009. Ilmu
Kedokteran Pencegahan Komunitas. Jakarta: EGC)
Proses Pelaksanaan Screening
Tahap 1
Tahap pertama
melakukan pemeriksaan terhadap kelompok penduduk yang dianggap mempunyai risiko
tinggi menderita penyakit
a. Bila hasil tes
negative maka dianggap orang tersebut tidak menderita penyakit.
b. Bila hasil tes
positif maka dilakukan pemeriksaan tahap kedua.
Tahap 2
Yaitu pemeriksaan
diagnostik yang bila hasilnya positif maka dianggap sakit dan mendapat
pengobatan, tetapi bila hasilnya negatif maka dianggap tidak sakit. Bagi tahap
kedua yang hasilnya negative dilakukan pemeriksaan ulang secara periodik.
Dengan catatan:
a. Pada sekelompok
indvidu yang tampak sehat dilakukan pemeriksaan (tes) dan hasil tes dapat
positif dan negative
b. Individu dengan
hasil tes negatif pada suatu saat dapat dapat dilakukan tes ulang.
c. Pada individu
dengan hasil tes positif dilakukan pemerisaan diagnostik yang lebih spesifik
dan bila hasilnya positif dilakukan pengobatan secar intensif.
d. Individu dengan hasil
test negatif dapat dilakukan tes ulang dan seterusnya sampai semua penderita
terjaring.
(Anonymous,
screening)
Khusus (Screening Gizi)
Persiapan Sebelum Screening Gizi
1.
Identifikasi tempat dimana
screening gizi akan dilakukan.
2.
Bagaimana screening gizi akan
dilakukan dan follow up di tempat tersebut.
3.
Pihak yang terlibat dalam
screening gizi.
4.
Informasi apa yang akan
dikumpulkan.
5.
Bagaimana kerahasiaan tetap
dapat disimpan.
6.
Bagaimana informasi yang
dikumpulkan dapat disatukan dan digunakan.
(Community Implementation Guide, 2003)
Cara Screening Gizi di Komunitas
Menemukan
kasus balita gizi buruk melalui pengukuran BB dan melihat tanda – tanda klinis.
Penjaringan secara aktif dilakukan 2 bulan sekali atau 3 bulan sekali di semua
posyandu di wilayah tersebut. Dilakukan di puskesmas dibantu kader. Kegiatan
yang dilakukan adalah semua balita didata terlebih dahulu lalu diukur BB,TB,
umur.
Penjaringan
pasif dilakukan di puskesmas apabila penderita dating ke puskesmas pada saat
membawa balitanya. Tahapan yang dilakukan dalam screening pasif sama. Nama
balita yang mengalami gizi buruk dicatat dan membuat laporan KLB.
(Pakaya,
Rahma edy et al. 2008. Upaya
Penanggulangan Gizi Buruk pada Balita Melalui Penjaringan dan Pelacakan Kasus).
Contih skrining gizi komunitas itu apa
BalasHapus